Bank Neo Commerce Bukukan Laba Bersih Rp430,98 Miliar hingga Kuartal III 2026
Bank Neo Commerce terus mendulang laba. (BNC)--
JURNALISID.COM - PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC), salah satu pelopor bank dengan layanan digital, berhasil membukukan laba bersih setelah pajak (Prot After Tax/PAT) sebesar Rp430,98 miliar hingga September 2026. Pencapaian laba bersih ini melanjutkan tren positif yang telah BNC lakukan sejak beberapa tahun terakhir. Ini mencerminkan kuatnya kemampuan Perseroan dalam menghasilkan protabilitas, sekaligus menunjukkan bahwa strategi penguatan fundamental bisnis yang dijalankan BNC yang berkelanjutan dan terus memberikan hasil yang semakin solid. Capaian laba tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) yang secara konsisten menunjukkan tren positif sepanjang 2026, perbaikan esiensi operasional, serta pengelolaan kualitas aset dan risiko yang semakin terukur.
Tren positif ini menjadi indikasi bahwa BNC berada pada jalur yang tepat dalam membangun bisnis retail banking yang semakin tangguh dan berkelanjutan. Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Adrian Soewardjo, mengatakan bahwa kinerja hingga Kuartal III 2026 merupakan kelanjutan dari strategi Perseroan untuk memperkuat fundamental bisnis sebelum memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
"Stabilnya raihan laba hingga akhir kuartal III 2026 ini merupakan pencapaian yang menggembirakan bagi BNC. Namun, bagi kami, hal yang lebih penting adalah bagaimana pencapaian tersebut didukung oleh kualitas fundamental bisnis yang semakin baik. Kami terus mempertahankan protabilitas, meningkatkan esiensi, menjaga kualitas aset, serta memastikan bahwa setiap langkah pengembangan bisnis dilakukan secara terukur dan dengan prinsip kehati-hatian. Kami percaya bahwa fondasi yang semakin kuat akan memberikan kemampuan bagi BNC untuk tumbuh secara lebih sehat dan berkelanjutan ke depannya," jelas Adrian, dalam siaran persnya, Selasa (3/112026).
Dari sisi pendapatan, BNC mencatatkan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar Rp1,69 triliun hingga September 2026. Menariknya, NII menunjukkan tren peningkatan secara berurutan selama tiga kuartal pertama 2026. Pada Kuartal I 2026, NII tercatat sebesar Rp548,14 miliar, kemudian selama kuartal II 2026 meningkat menjadi Rp562,55 miliar, dan kembali meningkat menjadi Rp576,04 miliar pada Kuartal III 2026. Tren ini menunjukkan kemampuan Perseroan dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan kontribusi dari segmen Retail sekaligus tetap menjaga esiensi biaya dana (COF).Selain pendapatan bunga, pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) juga mengalami peningkatan.
Hingga September 2026, BNC membukukan Fee Based Income sebesar Rp90,55 miliar, meningkat 5,67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp85,69 miliar. Peningkatan ini mencerminkan upaya Perseroan untuk terus mengembangkan sumber pendapatan non-bunga melalui optimalisasi produk dan layanan perbankan yang semakin relevan dengan kebutuhan nasabah. Dari sisi neraca, BNC mencatatkan total aset sebesar Rp17,19 triliun per September 2026, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp11,86 triliun. CASA Perseroan mengalami peningkatan tipis sebesar 1,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp3,92 triliun, dengan CASA Ratio meningkat dari 28,40% menjadi 33,05%.
Hal ini mencerminkan upaya Perseroan dalam memperkuat proposisi produk dan memperluas kapabilitas layanan transaksional untuk meningkatkan customer stickiness dan mendorong pertumbuhan fee based income serta mengoptimalkan pengelolaan COF. Sementara itu, total kredit yang disalurkan tercatat sebesar Rp6,73 triliun. Sejalan dengan strategi yang telah dijalankan sejak awal 2026, BNC tetap mengedepankan pendekatan penyaluran kredit yang lebih selektif dengan berfokus pada kualitas debitur, prol risiko, serta potensi imbal hasil yang berkelanjutan. Optimalisasi portofolio tersebut merupakan bagian dari upaya Perseroan untuk memastikan bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume, tetapi juga pada kualitas dan keberlanjutan aset produktif.
Adrian menambahkan, bahwa BNC akan terus menjaga keseimbangan antara pencapaian protabilitas, esiensi operasional, dan kualitas pertumbuhan bisnis.
"Strategi pertumbuhan yang kami jalankan saat ini bukan semata-mata mengejar peningkatan skala bisnis, melainkan memastikan bahwa setiap aktivitas usaha memberikan kontribusi yang sehat bagi Perseroan. Kami melihat bahwa disiplin dalam pengelolaan portofolio kredit, penguatan proses operasional, serta pengembangan sumber pendapatan yang semakin beragam merupakan elemen penting untuk membangun bisnis yang lebih tangguh. Dengan pendekatan tersebut, kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan yang dicapai BNC memiliki kualitas yang baik dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang," ungkap Adrian.
Dari sisi esiensi, BNC terus menunjukkan perbaikan dalam pengelolaan biaya operasional. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) membaik menjadi 81,77% pada September 2026, dibandingkan 82,81% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Cost to Income Ratio (CIR) juga membaik menjadi 31,45% dari sebelumnya 31,59%. Perbaikan kedua indikator ini mencerminkan upaya Perseroan dalam mengoptimalkan produktivitas operasional dan menjaga efektivitas pengelolaan biaya. Di sisi kualitas aset, rasio Non Performing Loan (NPL) Gross berhasil membaik menjadi 2,78%, dibandingkan 2,92% pada September 2025. Adapun NPL Nett tercatat sebesar 0,27%. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa kualitas portofolio kredit BNC tetap terjaga, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian, penguatan tata kelola risiko, serta penyempurnaan proses pengelolaan kredit secara berkelanjutan.
Penguatan fundamental BNC juga tercermin dari struktur permodalan yang semakin kokoh. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 53,40% pada September 2026, meningkat dibandingkan 46,73% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, modal inti Perseroan meningkat menjadi Rp4,35 triliun, dibandingkan Rp3,94 triliun pada September 2025, atau tumbuh 10,41% secara tahunan. Penguatan permodalan tersebut memberikan ruang yang semakin memadai bagi Perseroan untuk menjaga ketahanan usaha, mengantisipasi berbagai potensi risiko, sekaligus mendukung pengembangan bisnis secara terukur dan berkelanjutan di masa mendatang.
BACA JUGA:Bank Neo Commerce Bukukan Laba Rp294,85 Miliar pada Semester I 2026
Dari sisi protabilitas, BNC mencatatkan rasio Net Interest Margin (NIM) sebesar 14,30% pada September 2026. Capaian ini mencerminkan kemampuan Perseroan dalam menjaga margin pendapatan bunga melalui pengelolaan aset produktif dan struktur pendanaan secara terukur. Bersama dengan tren peningkatan NII selama tiga kuartal berturut-turut, hal ini menunjukkan bahwa kegiatan intermediasi BNC terus memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan Perseroan.
Menurut Adrian, pencapaian hingga Kuartal III 2026 memberikan keyakinan bahwa strategi penguatan fundamental yang dijalankan Perseroan telah berada pada arah yang tepat. Ke depan, BNC akan tetap fokus memastikan kesiapan seluruh aspek bisnis dan operasional untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
- Tag
- Share
-