Forum Jurnalis Betawi Gelar Bukber dan Diskusi untuk 5 Abad Jakarta
Forum Jurnalis Betawi menggelar kegiatan buka puasa bersama, santunan anak yatim, sekaligus diskusi mengenai program penulisan 500 Cerita Kampung-FJB-FJB
JURNALISID.COM – Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar kegiatan buka puasa bersama (bukber), santunan anak yatim, sekaligus diskusi mengenai program penulisan 500 Cerita Kampung Betawi.
Rencananya program penulisan tersebut akan dipersembahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam rangka menyambut peringatan 5 abad Kota Jakarta pada 2027.
Kegiatan yang dihadiri para jurnalis Betawi, tokoh masyarakat, serta pemerhati budaya tersebut berlangsung di Saung Roesdiah, Jalan Kemandoran VI, Grogol Utara, Jakarta Selatan, Jumat (13/3/2026).
Ketua FJB, M. Syakur Usman, mengatakan program 500 Cerita Betawi dan Jakarta digagas sebagai bentuk kontribusi masyarakat Betawi, dalam menyambut momentum lima abad Kota Jakarta yang akan diperingati pada Juni 2027.
Menurutnya, masyarakat Betawi tidak ingin hanya menjadi penonton dalam perayaan bersejarah tersebut, melainkan turut berperan aktif melalui karya tulis yang merekam perjalanan dan dinamika kehidupan kampung-kampung Betawi.
“Program 500 Cerita Betawi dan Jakarta digagas sebagai ikhtiar anak-anak Betawi, untuk berkontribusi dalam perayaan 5 abad Kota Jakarta. Anak Betawi tidak ingin hanya menjadi penonton,” ujar Syakur dalam sambutannya.
Ia mendorong masyarakat Betawi untuk menuliskan kisah tentang kampung halamannya masing-masing, termasuk pengalaman pribadi menyaksikan perubahan lingkungan yang terus berkembang seiring dinamika pembangunan Jakarta.
“Sudah saatnya anak-anak Betawi menulis soal kampung-kampungnya sendiri. Menulis pengalaman di kampung yang berubah, bertumbuh, dan berkembang seiring pembangunan kota Jakarta,” kata Syakur.
Buku ini diharapkan menjadi pondasi pembangunan kota Jakarta ke depan, sekaligus menjadi vocal point keinginan masyarakat Betawi sebagai masyarakat inti Jakarta terhadap pembangunan kotanya di masa mendatang.
Karena itu, FJB mengajak berbagai pemangku kepentingan di Jakarta, untuk mendukung program tersebut, mulai dari tokoh Betawi, cendekiawan, jurnalis, hingga pemerintah daerah, khususnya Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik DKI Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut turut hadir jurnalis senior sekaligus budayawan, N. Syamsuddin Ch. Haesy, yang menyampaikan pentingnya menjaga identitas budaya Betawi, di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota metropolitan.
“Saya selalu meyakini, budaya Betawi adalah bagian penting dari jati diri Jakarta. Di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota metropolitan yang terus berubah, kita tidak boleh kehilangan akar budaya kita sendiri,” ujar Haesy.
Ia menilai keberadaan perkampungan budaya Betawi sangat penting sebagai ruang hidup bagi tradisi, bahasa, kesenian, dan nilai sosial masyarakat Betawi. “Jangan sampai anak Betawi menjadi tamu di kampungnya sendiri, bahkan nyasar di tanah kelahirannya,” katanya.
Selain diskusi budaya, kegiatan bukber tersebut juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim yang diserahkan secara simbolis oleh sejumlah tokoh Betawi, antara lain Muhammad Nuh, Supli Ali, dan Ibnu Chuldun. Turut hadir pula Beky Mardani, serta maestro lukis asal Betawi, Sarnadi Adam.
- Source
- Tag
- Share
-